Jagat media sosial Indonesia beberapa waktu terakhir diramaikan oleh beredarnya sebuah foto yang memperlihatkan penyanyi Sal Priadi berpose bersama sastrawan dan perupa Sitok Srengenge. Sekilas, foto tersebut tampak seperti pertemuan biasa antarsesama pelaku seni.
Namun, potret itu justru memicu gelombang kritik dan kecaman dari warganet. Banyak pihak menilai Sal Priadi telah memberi ruang atau “panggung” bagi sosok yang memiliki rekam jejak kasus pelecehan seksual di masa lalu, sebuah isu yang hingga kini masih menjadi luka sosial bagi banyak orang.
Reaksi publik tak datang tanpa alasan. Nama Sitok Srengenge pernah menjadi sorotan nasional setelah ia dilaporkan dalam kasus dugaan pemerkosaan terhadap seorang mahasiswi pada akhir 2013.
Laporan tersebut kemudian diproses oleh kepolisian dan pada 2014, Sitok ditetapkan sebagai tersangka. Kasus ini menyedot perhatian luas karena melibatkan figur publik di ranah sastra yang sebelumnya dikenal lewat karya-karya reflektif dan pemikiran filosofisnya.
Dia hangout sama Sitok Srengenge sastrawan pemerkosa mahasiswa UI, korbannya sampe lahiran, tapi sampe sekarang pelaku cuma kena jerat perbuatan tidak menyenangkan. Klarifikasinya jelek banget lagi pic.twitter.com/GNWRVkZ4Na
— Jesaaa (@Vourierr) January 1, 2026
Meski proses hukum sempat berjalan, perkara tersebut tidak berujung pada putusan pengadilan yang benar-benar tuntas di ruang publik. Ketiadaan kejelasan akhir itulah yang membuat nama Sitok tetap dibayangi kontroversi hingga bertahun-tahun kemudian.
Dalam konteks inilah, foto Sal Priadi bersama Sitok Srengenge menjadi problematik di mata sebagian masyarakat. Banyak netizen menyampaikan kekecewaan mereka melalui berbagai platform media sosial.
Kritik yang muncul bukan hanya ditujukan pada Sitok sebagai figur dengan masa lalu bermasalah, tetapi juga kepada Sal sebagai musisi muda yang dinilai memiliki basis penggemar besar dan pengaruh kuat, terutama di kalangan generasi muda.
Bagi para pengkritik, kemunculan foto tersebut seolah mengaburkan batas antara sopan santun personal dan tanggung jawab etis seorang figur publik.
Sebagian warganet berpendapat bahwa berfoto bersama seseorang yang pernah terseret kasus kekerasan seksual, tanpa penjelasan konteks yang memadai, berpotensi menormalisasi atau memutihkan rekam jejak kelam tersebut.
Dalam iklim sosial yang semakin sensitif terhadap isu kekerasan seksual dan keberpihakan kepada korban, tindakan semacam itu dianggap tidak lagi netral.
Reaksi keras ini pun berkembang menjadi perdebatan lebih luas tentang bagaimana publik figur seharusnya bersikap terhadap individu dengan latar belakang kontroversial.
Di tengah gelombang kritik tersebut, Sal Priadi akhirnya angkat bicara. Melalui pernyataan tertulis di media sosial, ia menjelaskan bahwa pertemuan dengan Sitok Srengenge terjadi secara tidak direncanakan.
Sal mengaku saat itu sedang berkunjung ke rumah anak Sitok, dan sang sastrawan kebetulan berada di lokasi. Foto tersebut, menurut Sal, diambil sebagai bentuk sopan santun dalam konteks pertemuan singkat, bukan sebagai simbol dukungan atau pembenaran terhadap tindakan Sitok di masa lalu.
Sal juga menegaskan bahwa dirinya tidak pernah mendukung segala bentuk kekerasan seksual. Ia menyatakan berdiri di pihak korban dan memandang kasus yang pernah menjerat Sitok sebagai persoalan serius yang tidak bisa dibenarkan.
Klarifikasi ini disampaikan untuk meredam anggapan bahwa ia sengaja memberi legitimasi sosial kepada figur yang memiliki catatan kelam. Ia pun mengakui akan lebih berhati-hati ke depannya dalam bersikap di ruang publik, menyadari bahwa setiap gestur figur publik kini mudah ditafsirkan dan diperdebatkan.
Terlepas dari klarifikasi tersebut, polemik ini menunjukkan betapa kuatnya ingatan kolektif masyarakat terhadap kasus kekerasan seksual, terutama ketika pelakunya berasal dari kalangan berpengaruh.
Kasus Sitok Srengenge menjadi contoh bagaimana proses hukum yang tidak berakhir jelas dapat meninggalkan residu sosial yang panjang. Nama seseorang bisa terus dipersoalkan di ruang publik, bahkan bertahun-tahun setelah peristiwa hukum terjadi, terutama ketika isu yang terlibat menyangkut keselamatan dan martabat korban.
Kontroversi foto ini juga mencerminkan perubahan sikap masyarakat terhadap etika publik figur. Jika di masa lalu interaksi personal kerap dianggap urusan privat, kini batas tersebut semakin kabur.
Publik menuntut kepekaan sosial yang lebih tinggi, khususnya dari mereka yang memiliki pengaruh besar di ruang digital. Setiap foto, pernyataan, atau pertemuan bisa dibaca sebagai sikap politik, moral, atau sosial.
Pada akhirnya, peristiwa ini bukan hanya soal Sal Priadi atau Sitok Srengenge semata. Ia menjadi cermin perdebatan yang lebih luas tentang relasi antara seni, etika, dan tanggung jawab sosial di era media sosial.
Di tengah meningkatnya kesadaran akan pentingnya keberpihakan terhadap korban kekerasan seksual, masyarakat terus menagih konsistensi sikap dari para figur publik. Polemik ini menegaskan bahwa di era digital, diam atau sekadar bersikap “netral” kerap tidak lagi dianggap cukup.