Mobil Listrik Bekas Sulit Laku, Dealer Singapura Keluhkan Depresiasi Tajam

Pasar mobil listrik (Electric Vehicle/EV) bekas di Singapura menghadapi tantangan serius. Sejumlah dealer mengungkapkan bahwa kendaraan listrik bekas jauh lebih sulit dijual kembali dibandingkan mobil bermesin bensin, dengan waktu penjualan yang lebih lama serta tingkat depresiasi yang jauh lebih tajam.

Kondisi ini terjadi di tengah pesatnya pertumbuhan penjualan EV baru. Data menunjukkan kendaraan listrik menyumbang 53 persen dari total pendaftaran mobil baru di Singapura pada Oktober 2025. Namun, tren positif di pasar kendaraan baru tidak serta-merta tercermin di segmen mobil bekas.

Di showroom Euro Performance Asia di kawasan Ang Mo Kio, mobil listrik hanya mencakup kurang dari 10 persen dari total 90 unit kendaraan bekas yang dipajang. Manajemen dealer mengaku sengaja membatasi penerimaan EV bekas karena lemahnya permintaan pasar.

“Mobil bensin biasanya laku dalam waktu sekitar tiga minggu, sementara EV bisa memakan waktu hingga enam bulan untuk terjual. Bahkan ada satu unit EV yang sudah lebih dari setahun belum menemukan pembeli,” ujar Managing Director Euro Performance Asia, Anson Lee, seperti diberitakan Channel News Asia, Kamis (08/01/2026).

Ia menambahkan, sebagian besar dealer memilih enggan menerima mobil listrik bekas karena risikonya tinggi. Menurutnya, satu-satunya merek EV yang relatif masih diminati di pasar bekas adalah BYD, terutama karena banderol harganya yang lebih terjangkau dibandingkan merek lain.

Masalah lain yang menjadi perhatian utama adalah depresiasi harga. Dealer memperkirakan mobil listrik bekas dapat kehilangan nilai hingga 40 persen, jauh di atas mobil bermesin pembakaran internal (ICE) yang rata-rata hanya terdepresiasi sekitar 10 persen.

Lee menilai konsumen cenderung memperlakukan EV layaknya produk elektronik. Perkembangan teknologi yang cepat membuat banyak pemilik tergoda untuk segera mengganti kendaraan lama dengan model terbaru yang menawarkan jarak tempuh lebih jauh, performa lebih baik, dan fitur lebih canggih.

“Begitu model baru muncul, pemilik ingin upgrade. Akibatnya, model lama langsung membanjiri pasar bekas,” jelasnya.

Temuan serupa juga diungkapkan platform jual beli kendaraan Sgcarmart. Berdasarkan data mereka, mobil listrik bekas membutuhkan waktu sekitar sepertiga lebih lama untuk terjual dibandingkan mobil konvensional.

Dari sekitar 15.000 unit mobil yang terdaftar di platform tersebut, hanya sekitar 900 unit atau sekitar 6 persen yang merupakan kendaraan listrik. Editorial Manager Sgcarmart, Desmond Chan, menyebut keraguan konsumen masih tinggi, terutama terkait perawatan dan keandalan jangka panjang EV.

“Masih ada tanda tanya soal perawatan, termasuk apakah bengkel yang mampu menangani EV sudah cukup banyak jika terjadi masalah,” ujarnya.

Selain itu, sebagian besar EV bekas di pasar saat ini masih tergolong muda, berusia dua hingga tiga tahun. Hal ini membuat nilai residu jangka panjang belum memiliki cukup data untuk meyakinkan pembeli.

“Dalam empat hingga lima tahun ke depan, ketika mobil-mobil ini semakin tua, barulah akan tersedia lebih banyak data yang bisa dijadikan pertimbangan,” kata Chan.

Meski demikian, sejumlah analis menilai pasar EV bekas masih memiliki potensi. Associate Professor Walter Theseira dari Singapore University of Social Sciences menilai pasar resale tetap penting, terutama bagi konsumen dengan anggaran terbatas di tengah mahalnya Certificate of Entitlement (COE).

Ia juga mencatat bahwa harga EV baru terus turun, terutama untuk model produksi China, seiring penurunan biaya rantai pasok. Kondisi ini membuat EV baru terkadang lebih menarik dibandingkan unit bekas berusia tiga hingga empat tahun.

Namun, Theseira memprediksi harga EV bekas bisa mengalami perbaikan dalam waktu dekat, seiring berkurangnya insentif pemerintah untuk pembelian EV mulai Januari 2026, yang berpotensi mendorong permintaan kendaraan listrik bekas.

Ia juga menilai laju perkembangan teknologi EV mulai melambat, yang dapat berdampak positif terhadap stabilitas harga jual kembali.

“EV yang dibeli hari ini jelas jauh lebih unggul dibandingkan EV sepuluh tahun lalu. Tapi perbedaannya tidak lagi sedrastis antara EV sekarang dan lima tahun lalu,” ujarnya.

Dengan target Singapura menghentikan pendaftaran mobil bensin baru pada 2030 dan mewujudkan armada kendaraan energi bersih sepenuhnya pada 2040, pasar EV—termasuk segmen mobil bekas—diperkirakan akan terus berevolusi seiring meningkatnya kepercayaan konsumen dan kematangan ekosistem pendukung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • slot modal kecil jp besar
  • daftar akun slot resmi
  • Situs Slot Online
  • sugar rush 1000x
  • Slot Deposit QRIS
  • Campuran Slot Populer
  • Slot Game Sugar Rush
  • Gates of Olympus
  • Mahjong Ways
  • slot gacor hari ini
  • jp sugar rush
  • bocoran pola hari ini
  • link bandar toto
  • olx707 link resmi
  • link slot hari ini
  • link situs bandar gacor
  • olx707 link resmi 2026
  • olx707 login daftar 2026
  • slot hari ini
  • link bandar slot
  • olx707 link resmi kami
  • daftar slot gacor
  • link Slot Mudah Maxwin