Dunia otomotif global diprediksi akan menghadapi badai besar di tahun 2026. Euisun Chung, Ketua Eksekutif Hyundai Motor Group, secara terbuka memperingatkan bahwa tahun ini berpotensi menjadi salah satu periode tersulit dalam sejarah industri otomotif modern.
“Tahun ini akan menjadi tahun di mana faktor-faktor krisis yang selama ini kita khawatirkan menjadi kenyataan,” tegas Chung dalam pidato Tahun Barunya, seperti dilaporkan Automotive News yang juga diberitakan InsideEVs, Rabu (07/01/2026) .
Ancaman utama datang dari ketegangan perdagangan global, persaingan yang semakin ketat, dan konflik geopolitik yang dapat mengganggu operasi di berbagai wilayah.
Hyundai menjadi salah satu korban langsung kebijakan proteksionis pemerintahan Trump. Bea masuk 15% untuk mobil buatan Korea merugikan perusahaan sekitar 1,8 triliun won (US$ 1,2 miliar) hanya dalam kuartal ketiga 2025. Bahkan kendaraan yang diproduksi di AS dan dikirim ke Kanada kena imbas tarif balasan.
Di tengah tekanan ini, Hyundai melihat peluang di luar kendaraan konvensional. Chung menyatakan fokus akan beralih ke “AI Fisikal”, memanfaatkan keahlian Boston Dynamics yang dimilikinya untuk membangun pasukan 30.000 robot industri. Robot-robot ini akan ditugaskan untuk merakit mobil, mengantar paket, dan tugas manufaktur lainnya.
“Nilai entitas bergerak kita, seperti mobil dan robot, serta data proses manufaktur akan menjadi senjata ampuh yang tidak mudah ditiru perusahaan teknologi besar,” klaim Chung.
Pergeseran strategi industri juga terlihat jelas di Consumer Electronics Show (CES) 2026 di Las Vegas. Ajang yang sebelumnya didominasi peluncuran kendaraan listrik (EV) kini berubah menjadi pameran teknologi mobil otonom dan kecerdasan buatan (AI).
Menurut laporan Reuters, penarikan insentif dan kebijakan kurang ramah EV di AS telah meredam permintaan, memaksa banyak produsen memikirkan ulang strategi. “Hal itu mulai selaras dengan ke mana orang-orang menginvestasikan uang mereka,” ujar CJ Finn, pemimpin industri otomotif di Pricewaterhouse Coopers.
Meski banyak startup otonom seperti Cruise dan Argo gulung tikar, momentum dari Tesla dan Waymo menghidupkan kembali minat pada teknologi “pengendalian tanpa pandangan mata” (eyes-off/hands-off).
Sementara produsen mapan bersiap menghadapi badai, pendatang baru justru menunjukkan performa agresif. Xiaomi, yang sering dijuluki “Apple Car-nya China”, berhasil menjual 410.000 unit pada tahun penuh pertamanya (2025).
Pendiri sekaligus miliarder Lei Jun sekarang menargetkan penjualan lebih dari 550.000 unit pada 2026, atau naik 34%. Perusahaan juga berencana memperluas jajaran produknya dengan empat model baru, termasuk SUV EV jarak jauh lima dan tujuh tempat duduk.
Pencapaian Xiaomi bahkan membuat rival terkesan. Jim Farley, CEO Ford, mengaku sulit berhenti mengendarai SU7, sementara mantan CEO Volkswagen China, Karl-Thomas Neumann, menyebutnya sebagai “tanda peringatan keras” bagi produsen mobil Barat.
Yang lebih mencengangkan, unit otomotif Xiaomi mencapai profitabilitas dalam 18 bulan, setengah waktu yang dibutuhkan Tesla untuk meraih posisi serupa.
Di balik semua hiruk-pikuk teknologi, pertanyaan mendasar mengemuka yaitu Apakah konsumen benar-benar menginginkan mobil tanpa pengemudi? Tren “otonomi pribadi” menjadi jargon panas, namun apakah ini sekadar strategi pemasaran atau kebutuhan nyata pasar?
Industri otomotif global kini berada di persimpangan antara menghadapi tekanan perdagangan, merespons pergeseran teknologi dari EV ke AI, sekaligus bersiap menghadapi gelombang pendatang baru dari Asia yang semakin perkasa.
Tahun 2026 dipastikan akan menjadi ajang pertarungan survival sekaligus inovasi terbesar dalam satu dekade terakhir.