
Lanskap transportasi publik di Asia Tenggara tengah mengalami transformasi besar. Bus-bus listrik asal Tiongkok, yang satu dekade lalu sempat dipandang sebelah mata karena masalah keandalan, kini justru menjadi tulang punggung digitalisasi transportasi di kota-kota besar seperti Jakarta, Kuala Lumpur, hingga Manila.
Permintaan yang melonjak ini didorong oleh ambisi dekarbonisasi pemerintah regional dan agresivitas pabrikan Tiongkok yang tengah menghadapi kejenuhan pasar domestik.
Di Jakarta, perubahan ini dirasakan langsung oleh pengemudi senior seperti Muhammad Iqbal. Setelah 20 tahun memegang kemudi bus konvensional, setahun terakhir ia beralih ke bus listrik Skywell milik Transjakarta.
“Dulu bus Tiongkok punya reputasi buruk karena sering mogok atau terbakar. Tapi sekarang beda jauh,” ujar Iqbal, melansir dari Nikkei Asia, Jumat (02/02/2026).
Dengan transmisi otomatis dan sistem pengisian daya semalam (overnight charging), operasional bus listrik diklaim jauh lebih efisien dibandingkan bus berbahan bakar gas (CNG) atau solar.
Transjakarta sendiri menargetkan elektrifikasi penuh 10.000 armada pada 2030. Saat ini, merek-merek seperti BYD, Skywell, dan Zhongtong sudah mulai mendominasi trayek-trayek utama.
Langkah ini diperkuat dengan kehadiran pabrik perakitan lokal hasil kemitraan BYD dengan VKTR (Bakrie Group) di Magelang, Jawa Tengah, yang telah mencapai tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sebesar 40%.
Gelombang adopsi bus listrik tak hanya melanda Indonesia, tetapi juga merambah ke seluruh negara tetangga di Asia Tenggara, dengan target agresif dan strategi yang beragam. Di Singapura, pemerintah telah mencanangkan ambisi besar agar setengah dari seluruh armada bus publiknya bertenaga listrik pada tahun 2030.
Kemajuan teknologi bahkan lebih pesat, ditandai dengan uji coba proyek bus listrik otonom yang dikerjakan oleh sebuah konsorsium dari Tiongkok pimpinan BYD.
Sementara itu, Malaysia memilih pendekatan strategis dengan fokus awal pada koridor-koridor utama, seperti rute lintas batas Johor Bahru-Singapura. Untuk memenuhi kebutuhan ini, pabrikan lokal SKS Bus melakukan aliansi strategis dengan raksasa kereta api dan transportasi Tiongkok, CRRC, guna memproduksi bus listrik dengan desain lokal pertama mereka.
Di Filipina, dorongan datang melalui regulasi berupa Electric Vehicle Industry Development Act, yang mewajibkan setidaknya 5% armada kendaraan dinas pemerintah beralih ke listrik.
Kebijakan ini ibarat karpet merah yang dibentangkan, membuka peluang besar bagi produsen otomotif Tiongkok untuk menguasai pasar utama seperti Manila dan Quezon City.
Meski mendominasi, jalan bagi bus Tiongkok tidak sepenuhnya mulus. Di Vietnam, raksasa lokal VinFast masih memegang kendali penuh atas pasar domestik. Sementara di Thailand, dominasi bus listrik justru memicu tantangan bagi industri komponen lokal yang selama ini bergantung pada ekosistem otomotif Jepang.
Isu yang paling krusial muncul di penghujung 2025: Keamanan Siber. Laporan dari operator transportasi di Norwegia memicu kekhawatiran bahwa perangkat lunak pada bus Tiongkok, seperti Yutong, dapat dimanipulasi dari jauh.
“Pemerintah harus waspada terhadap risiko pencurian data pola mobilitas publik yang bernilai strategis. Audit siber nasional untuk sistem EV impor menjadi kebutuhan mendesak,” ungkap seorang pakar keamanan siber dari institusi lokal.
Terlepas dari isu geopolitik di Laut China Selatan yang sering mempolitisasi teknologi Tiongkok, faktor efisiensi biaya dan performa membuat bus listrik asal Negeri Tirai Bambu ini sulit ditolak. Dengan dukungan kebijakan net-zero emission dari para pemimpin ASEAN, bus listrik Tiongkok diprediksi akan terus melaju kencang, mengubah wajah transportasi publik regional menjadi lebih bersih dan senyap.
[ad_2]